Language in Diversity

Collaborative Learning

DSC07917COLLABORATIVE LEARNING

Collaborative learning adalah proses belajar kelompok yang setiap anggota menyumbangkan informasi, pengalaman, ide, sikap, pendapat, kemampuan, dan keterampilan yang dimilikinya, untuk secara bersama-sama saling meningkatkan pemahaman seluruh anggota. Collaborative learning memungkinkan setiap siswa untuk memahami seluruh bagian pembahasan, tidak seperti pada kelompok belajar yang kita kenal, yang menyebabkan hanya siswa tertentu yang memahami materi tertentu. Metode ini juga membuat seluruh siswa akan memiliki pemahaman yang setara akan suatu pembahasan. Collaborative Learning juga merupakan salah satu metode dalam student-centered learning.
Sebagai metode belajar, collaborative learning dilandasi oleh pemikiran bahwa kegiatan belajar hendaknya mendorong dan membantu siswa untuk terlibat secara aktif membangun pengetahuan sehingga mencapai pemahaman yang mendalam (deep learning). Dalam pendekatan ini, siswa dipandang sebagai pusat dari kegiatan belajar. Dalam merancang kegiatan belajar di kelas, pengajar tidak hanya memperhatikan tuntutan kurikulum yang harus diselesaikan, melainkan juga memperhatikan kondisi dan karakteristik siswa serta memberi kesempatan pada mereka untuk menentukan sendiri beberapa hal dalam proses belajar, seperti sebagian dari tujuan yang ingin dicapai dalam proses belajarnya. Hal ini tidak berarti bahwa pengajar menyerahkan sepenuhnya pada siswa untuk membuat keputusan mengenai materi-materi yang penting dipelajari, melainkan memberikan sebagian tanggung jawab pada siswa untuk mengarahkan sendiri proses belajarnya.

Agar tercapainya collaborative learning yang berhasil, terdapat faktor-faktor utama yang harus diperhatikan, yaitu:
1. Saling ketergantungan yang positif
Dalam hal ini, siswa harus percaya bahwa mereka tergantung pada orang lain yaitu untuk bersama-sama mencapai sukses. Dan dalam kelompok itu, setiap anggota harus menjalankan masing-masing perannya.
2. Tanggung jawab individu terhadap tugas kelompok
a) Setiap anggota kelompok harus bertanggung jawab atas 3 hal:
~ Aktif dan terlibat dalam kegiatan kelompok
~ Melakukan tugas dengan adil
~ Membantu anggota lain dalam mengerahkan potensi dan penguasaan materi
b) Siswa bertanggung jawab atas kemajuan proses belajar diri sendiri dan proses
belajar kelompok.
3. Interaksi yang menunjang
Siswa saling membantu dan mendorong yang lain dalam proses belajar lewat diskusi dan berbagi pengetahuan.
4. Kecakapan sosial
a) Dalam kerja kelompok diperlukan kecakapan dalam berkomunikasi, mengatasi konflik, membangun kepercayaan, menyelesaikan permasalahan, kemimpinan.
b) Siswa harus belajar dan berlatih untuk mengembangkan kecakapan-kecakapan tersebut.
5. Penilaian dalam kelompok
Kelompok harus senantiasa mematau efektivitas kerjanya, misalnya dengan menanyakan tentang “apa yang telah dilakukan oleh setiap anggota untuk membantu kelompok”. Sehingga penilaian dan feedback diberikan pada setiap anggota kelompok.

Setelah mengetahui faktor-faktor berhasilnya collaborative learning, terdapat juga beberapa hal agar pelaksanaan collaborative learning berjalan dengan optimal. Diantaranya yaitu:
a) Siswa menyadari bahwa tanggung jawab atas proses belajar terletak pada dirinya, bukan pada pengajar.
b) Siswa menyadari bahwa hasil belajarnya dipengaruhi oleh usahanya dalam membangun pengetahuan.
c) Siswa secara aktif berinisiatif mengarahkan dirinya dalam belajar termasuk memonitor dan mengevaluasi.
d) Siswa secara aktir menggunakan berbagai strategi dalam membangun pengetahuan dan mengatasi kesulitan belajar termasuk berinteraksi dengan lingkungan.

Di dalam collaborative learning, setiap siswa mempunyai peran untuk bertanggung jawab atas penguasaan pengetahuan diri sendiri dan kelompoknya. Setiap siswa juga harus memiliki keterampilan-keterampilan sosial dasar sehingga dapat menjalankan setiap peran-peran dalam kelompok. Yang terakhir, siswa berperan untuk mengarahka, memotivasi, menjelaskan, mencatat, merangkum, mengkritik, menengahi dan bertanya. Adapun peran-peran yang harus dihindari siswa dalam collaborative learning, yaitu free rider, sucker, mendominasi, dan ganging up on task.
Selain siswa, pengajar juga mempunyai peran dalam collaborative learning ini. Yaitu sebagai fasilitator dengan menyediakan sarana yang memperlancar proses belajar siswa. Kedua, guru sebagai Coach (pelatih) dengan memberikan petunjuk, umpan balik, dan memotivasi. Ketiga, guru sebagai model dengan mengatakan proses berpikirnya atau dengan mendemonstrasikan. Yang terakhir yaitu guru sebagai partner bagi siswa-siswanya.
Kegiatan dirancang agar siswa dapat mengintegrasikan pengetahuan dan mengevaluasi lagi apa yang sudah dipelajarinya, misalnya membuat laporan mandiri, laporan home group serta presentasi.
Untuk mengetahui hasil belajar siswa, maka diadakan evaluasi belajar siswa. Yang dinilai dalam evaluasi yaitu, pengetahuan (materi ajar) yang dipahami dan dikuasai oleh siswa. Dan juga proses pembelajaran dilakukan oleh siswa.
Setelah diketahui hal-hal yang telah dijelaskan diatas, maka akan diperoleh keuntungan dari penerapan metode collaborative learing. Pertama, siswa memperoleh pemahaman yang mendalam. Kedua, mendorong siswa untuk menjadi siswa yang mandiri, percaya diri, dan bertanggung jawab. Ketiga, meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Yang terakhir, meningkatkan keterampilan menyelesaikan masalah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: