Language in Diversity

FEATURE

FEATURE

Oleh: Lina Marlina dan Arief Mahmudi

 1.      Pengertian Feature

Bila Anda mengamati isi surat kabar, majalah, atau tabloid, Anda mungkin akan menemukan satu tulisan yang sedikit berbeda dari tulisan berita pada umumnya. Tulisan ini dibuat sedikit lebih panjang, tanpa diawali dengan nama tempat dan nama media (seperti berita dalam surat kabar harian), ditulis dengan gaya bertutur (tepatnya cerita), dan isinya kebanyakan mengenai kisah-kisah. Tulisan dengan gayanya yang khas seperti itulah yang disebut sebagai “feature”.

Bila diamati sepintas, tulisan feature hampir sulit dibedakan dengan berita investigatif (depth news). Akan tetapi, kita sebenarnya akan mudah membedakan mana tulisan feature dan mana berita investigatif. Perbedaan yang paling mendasar terletak pada pengungkapannya. Bila berita investigatif lebih merupakan pengungkapan tentang fakta-fakta telanjang (terkadang dibarengi dengan angka-angka), maka feature berbentuk tulisan ringan dan sering pula ditulis dengan gaya bahasa yang tidak terlalu formal. Perbedaan lainnya adalah: bila pada berita investigatif (dan juga berita ringan) kaidah penulisannya sangat terikat 5 W + 1 H, maka dalam feature unsur-unsur itu seringkali diabaikan. Oleh karena itu, tulisan feature sampai kapan pun akan tetap menarik untuk dibaca. Berbeda dengan berita yang terikat dengan waktu sehingga ada unsur kadaluwarsa.

Jadi, apa sebenarnya pengertian feature itu?

Feature adalah sebuah berita artikel atau laporan istimewa, di koran atau majalah, yang memberikan tekanan pada suatu aspek tertentu dari suatu objek atau peristiwa, yang mempunyai bias emosional, pribadi atau humor, namun bukan merupakan berita aktual.[1]

Adapun pengertian feature menurut McKinney dari Denver Post—sebagaimana dikutip oleh Nanang Syaikhu[2]—adalah suatu tulisan yang berada di luar tulisan yang bersifat langsung, di mana pegangan utama dari 5 W + 1 H dapat diabaikan.

Secara sederhana, feature dalam bahasa Indonesia dapat disebut sebagai “karangan khas”. Kekhasan dari tulisan ini karena sifat atau fungsinya—yang bagi surat kabar—sebagai hiburan atau “bumbu penyedap” dari hampir keseluruhan isi surat kabar. Bahkan lebih menonjol lagi, tulisan (bergaya) feature biasanya terdapat pada media yang berjenis hiburan atau lebih banyak menampilkan unsur hiburannya (entertainment).

Sifat dan fungsi feature itu tak lain agar isi pada surat kabar tidak monoton dan membosankan khalayak. Inilah sebenarnya kekuatan pada sebuah tulisan feature. Meskipun demikian, tulisan feature bukanlah fiksi (cerita fiktif). Feature tetap mengedepankan fakta-fakta yang ada di lapangan.

 2.      Struktur Penulisan Feature

Struktur penulisan feature meliputi:

1)      Judul (head)

2)      Teras (lead)

3)      Bridge (jembatan antara lead dan body)

4)      Tubuh tulisan (body)

5)      Penutup (ending)

 3.      Jenis-jenis Feature

Wolseley dan Cambell dalam bukunya Exploring Journalism membagi feature sedikitnya ke dalam enam jenis:

1)      Feature yang bersifat insani (human interest)

Feature ini banyak sekali ditulis di surat kabar atau media cetak lainnya, termasuk juga televisi. Feature ini umumnya melaporkan tentang peristiwa-peristiwa atau kisah-kisah dramatis yang dialami oleh anak manusia (tragedi kemanusiaan).

2)      Feature yang bersifat sejarah (history)

Feature sejarah mengungkapkan fakta-fakta sejarah yang terjadi, baik sejarah lokal, nasional maupun internasional (dunia).

3)      Feature yang bersifat tokoh/biografi (profile)

Feature ini mengungkapkan perjalanan hidup dan karier seseorang, mulai sejak lahir hingga kesuksesannya di kemudian hari.

4)      Feature yang bersifat perjalanan (travelling)

Feature perjalanan adalah tulisan yang berbentuk laporan mengenai hasil-hasil perjalanan seorang penulis. Objek tulisan umumnya banyak mengungkap tempat-tempat yang pernah dikunjunginya, seperti tempat-tempat wisata, daerah-daerah terisolasi, dan sebagainya.

5)      Feature yang bersifat mengajar keahlian (teaching)

Feature mengajar keahlian menceritakan tentang tata cara menggunakan atau memanfaatkan suatu barang atau semacam tips-tips dan sekaligus pengenalan secara detail tentang barang itu, seperti cara merangkai bunga, cara menanam anthurium yang baik, cara merakit televisi, dan sebagainya.

6)      Feature yang bersifat ilmiah (expedition/explorating)

Feature ilmiah menceritakan tentang hasil-hasil penelitian dan eksplorasi yang (biasanya) dilakukan oleh seorang peneliti, seperti adanya penemuan-penemuan baru dalam lapangan ilmu pengetahuan.

 4.      Teknik Menulis Feature

Cara menulis feature sebetulnya hampir sama dengan gaya penulisan cerpen. Namun demikian tidak berarti bahwa kriteria sastra dan bahasa yang berbunga di dalam cerpen ada dalam tulisan feature. Artinya, penulisan feature tetap terikat pada syarat-syarat penulisan yang berlaku secara umum dalam surat kabar, termasuk isinya lebih mengedepankan fakta ketimbang fiksi.

Bagi seorang penulis feature, ia sama sekali tidak boleh mengabaikan tema dari tulisannya. Kalimat-kalimatnya yang sederhana dan berdasarkan fakta-fakta hendaknya tersusun rapi di dalam alinea-alinea yang merumuskan pikiran, dan berhubungan satu sama lainnya secara sistematis. Harus ada pula semacam klimaks dan antiklimaks seperti dalam cerpen agar dapat mengikat perhatian pembaca sehingga pembaca dengan asyik mengikuti jalannya cerita yang disajikan oleh si penulisnya. Dan, yang terpenting lagi adalah alur tulisan harus mengalir begitu rupa, tidak tersendat-sendat, sehingga pembaca seolah ikut hanyut di dalam cerita tadi.

Agar feature menarik untuk dibaca, sang penulis feature perlu menekankan sisi human interest. Caranya adalah dengan mengangkat tema-tema seperti:

1)      Ketegangan (suspense)

2)      Ketidaklaziman

3)      Minat pribadi

4)      Konflik

5)      Simpati

6)      Kemajuan

7)      Seks

8)      Usia (yang tidak lazim)

9)      Binatang

10)  Humor

 5.      Contoh Tulisan Feature

 

Tuhan Belum Ngasih Saya…

Umi (bukan nama sebenarnya), tiba-tiba terkulai lesu. Tatapan matanya hampa dan pikirannya menerawang jauh entah ke mana. Dari raut wajahnya, Umi tampaknya sedang memperlihatkan kesedihannya yang mendalam. Ia pun tak bergeming meski di depannya banyak mahasiswa berlalu-lalang.

Sambil duduk di emperan Auditorium Utama, ia kembali membolak-balik lembar-lembar kertas yang dipegangnya sejak tadi. Tapi, lagi-lagi, yang dicari toh tetap tak ditemukan. Sesaat Umi menghela napas, dan kemudian meremas-remas lembaran kertas tersebut. Ia pun membuang kertas itu ke tong sampah.

Senin (4/8) pagi itu, Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru UIN Jakarta baru saja mengumumkan nama-nama calon mahasiswa baru yang dinyatakan lulus ujian. Umi adalah termasuk salah satu peserta ujian yang tak lolos mengingat ketatnya persaingan.

Dibandingkan dengan kawan-kawan lainnya, Umi hari itu memang bernasib tak mujur. Padahal, menurut dia, sejak awal dirinya banyak berharap akan diterima di UIN Jakarta, satu-satunya perguruan tinggi yang dia pilih selepas lulus dari Aliyah. Oleh karena itu, untuk berhasil masuk UIN Jakarta, Umi mengaku telah mengerahkan seluruh kemampuannya dengan belajar ekstra keras. Tapi sayang, belajar keras Umi harus kandas saat hasil ujian diumumkan hari itu. “Mungkin Tuhan belum ngasih saya kesempatan lulus,” tuturnya pasrah.

Konon, ketika memilih UIN Jakarta untuk melanjutkan studinya, gadis lulusan sebuah Madrasah Aliyah swasta di bilangan Cipete, Jakarta Selatan ini mengambil Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan sebagai pilihan pertama. Pilihan kedua, ia mengambil Fakultas Psikologi.

“Saya belum tahu mau nerusin di mana setelah tidak lulus dari sini (UIN Jakarta—red.). Semua terserah ortu saja,” ucap Umi saat ditanya rencana selanjutnya.

Umi bukanlah satu-satunya calon mahasiswa baru yang tidak diterima di UIN Jakarta. Ada 6.199 calon mahasiswa lain dengan nasib yang sama. Berbeda dengan Umi, Isti’anah dan Ulfah justru sebaliknya. Mereka berhasil lolos pada ujian masuk UIN Jakarta yang digelar 22 Juli 2003 lalu.

Isti’anah, calon mahasiswa lulusan dari sekolah yang sama dengan Umi, saat itu diterima di Fakultas Psikologi sebagai pilihan pertamanya. Pilihan kedua, ia mengambil Program Studi Perbankan Syariah Fakultas Syariah dan Hukum. Sementara Ulfah, calon mahasiswa lulusan SMUN 3 Tegal, Jawa Tengah, diterima di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris Fakultas Adab dan Humaniora.

“Wah, saya surprise banget, Mas. Padahal, saat itu saya cuma milih satu program studi saja,” kata Ulfah seraya tak henti-hentinya melempar senyum.*

(Berita UIN, No. 04/11-17 Agustus 2003)


[1]Ismail Marahimin, Menulis Secara Populer (Jakarta: Pustaka Jaya, 2001), cet. ke-3, h. 243.

[2]Nanang Syaikhu, Panduan Praktis Menjadi Wartawan (T.tp.: Media Komunika, 2006), h. 26.

Comments on: "FEATURE" (2)

  1. Thanks for your writing..
    I like it!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: