Language in Diversity

SEMIOTIKA DALAM SASTRA

HUBUNGAN PENJAJAH-DIJAJAH DALAM

TEMATIK NOVEL “LETTRE MORTE” KARYA LINDA LE

Oleh ROSIDA EROWATI ( Dosen Sastra pendidikan bahasa dan sastra Indonesia UIN Jakarta)[1]

            Kajian semiotika dalam sastra telah dilakukan sejak mulai diperkenalkan oleh Saussure pada tahun 1920an di Eropa dan Peirce serta Morris pada masa yang sama di Amerika. Pada saat itu, kajian semiotika telah mendorong lahirnya berbagai pendekatan dalam kajian sastra, di antaranya pendekatan formalis, pendekatan struktural dan postruktural. Di antara berbagai kajian lain, semiotika menduduki tempat yang kian penting pada dasawarsa ini. Penggunaan konsep-konsep tanda dan makna dalam kajian sastra kian meluas dan dinamis hingga terkadang para pengkaji sastra sendiri memanfaatkannya secara semena-mena, tanpa menyatakan bahwa yang ia kerjakan dalam kerangka pemaknaan semiotik tersebut. Dengan demikian, kajian yang saya lakukan dalam kesempatan ini berupaya memberikan gambaran tentang kajian semiotik dalam pengkajian novel.

            Novel yang digunakan sebagai obyek penelitian adalah Lettre Morte (Surat-surat Kematian) karya Linda Lê, seorang perempuan pengarang Perancis kontemporer yang berkebangsaan Perancis namun keturunan Vietnam. Lê menjadi bagian dari pengarang francophone (masyarakat berbahasa Perancis). Pengarang francophone lahir karena persebaran penduduk Perancis ke wilayah-wilayah tertentu (seperti Kanada, Québec, kepulauan Acadie, Louisiana, Maine, Vermont, New Hampshire, Connecticut, Rhode Island, Massachussett-Amerika Serikat, Haiti, kepulauan Karibia), karena penjajahan (wilayah Maghreb, Afrika Hitam, beberapa kepulauan di samudera India, Lebanon, Siria, Vietnam, Laos, Kamboja), dan karena ekspansi kebahasaan melalui jaringan Alliance Française di seluruh dunia.

            Beberapa pengarang francophone yang diakui sebagai pengarang Perancis, di antaranya Albert Camus (berasal dari Aljazair), Tahar Ben Jelloun (dari Maroko), Amin Maalouf (dari Lebanon), serta Lê sendiri. Para pengarang ini biasanya diakui setelah mendapatkan penghargaan prestisius dari lembaga-lembaga pemberi penghargaan di Perancis[2]. Mereka berhasil karena memiliki kompetensi berbahasa Perancis yang sangat baik, mengingat lembaga-lembaga tersebut sangat mementingkan pekerjaan bahasa yang dilakukan oleh pengarang. Padahal bagi para pengarang dari negeri jajahan, mereka umumnya tidak menggunakan bahasa Perancis sebagai bahasa ibu namun sebagai hasil pendidikan formal (bahasa resmi kenegaraan di negara ybs.). Dapat dibayangkan kerja keras yang mereka lakukan untuk mendapatkan pengakuan dari masyarakat Perancis.

            Linda Lê merupakan salah satu pengarang francophone yang diakui oelh publik Perancis sebagai pengarang Perancis[3]. Daerah asal Lê, Vietnam, merupakan salah satu bekas wilayah pendudukan Perancis pada tahun 1050-an. Ketika Perancis keluar dari wilayah ini, terjadilah perang saudara antara Vietnam Utara (pemerintahan komunis) dengan Vietnam Selatan (pemerintahan democrat) yang mengakibatkan terbaginya Vietnam menjadi dua teritori pemerintahan: Utara dan Selatan. Keadaan di masa tersebut sangat kacau, penuh kekerasan, dan penderitaan terutama akibat terpecahnya keluarga-keluarga yang di dalamnya terjadi pernikahan antara orang Utara dan Selatan. Keadaan di Selatan yang lebih liberal dan bebas membuat sebagian warga Utara memilih mengungsi ke Selatan. Keberadaan mereka menimbulkan benturan antarkelompok. Orang Selatan menganggap orang Utara menjadi parasit bagi mereka dan memandang lebih rendah terhadap orang Utara. Di tengah keadaan seperti inilah Lê tumbuh dewasa, di wilayah Selatan (kota Dalat), dan mengenal Vietnam hingga ia mengungsi ke Perancis. Pengalamannya selama masa-masa tersebut ia tampilkan melalui karya-karyanya.

            Yeager, di dalam salah satu esei tentang Lê, menyatakan bahwa Lê merupakan salah satu ikon kesusasteraan Vietnam di Perancis. Pengarang Vietnam di Perancis mulai hadir sejak para imigran dari Negara pendudukan Perancis tersebut mengungsi ke Perancis, setelah reunifikasi Vietnam. Lê termasuk salah satu pengarang keturunan Vietnam generasi ketiga yang melakukan terobosan dengan berupaya menghapuskan identitas Vietnam di dalam karya-karyanya. Para pengarang generasi kedua banyak memunculkan tema yang berkaitan dengan kolonialisasi dan akibat yang ditimbulkannya, juga tema keterasingan karena mereka berada jauh dari negeri nenek moyangnya, namun tak dapat juga menyatu dengan Perancis (Yeager, 1993: h. 266). Upaya Lê untuk menghapus jejak sejarahnya terutama terlihat pada upayanya untuk tidak menggunakan istilah-istilah Vietnam sehingga tidak terasa lokalitas Vietnam yang dapat menghubungkan karyanya dengan negeri moyangnya.

            Pengamatan yang telah dilakukan oleh Yeager tersebut perlu diuji kembali, karena terbitnya karya Lê ini pada tahun 1999, memperlihatkan gejala yang berbeda. Dengan demikian, masalah yang perlu diajukan adalah bagaimanakah motif dan tema dalam Lettre Morte membentuk pemaknaan terhadap hubungan penjajah dan yang dijajah?

Landasan Teori

Semiotika atau ilmu tanda, merupakan ‘a set of assumptions and concepts that permit systematic analysis of symbolic systems’. Sistem simbolik yang dikaji dalam penelitian ini adalah novel. Istilah novel kini diterapkan pada sejumlah besar karya tulis yang menggunakan bentuk prosa fiksi. Novel merupakan karya yang lebih panjang daripada cerpen, namun lebih pendek daripada roman. Dengan demikian, novel memungkinkan untuk memasukkan jumlah karakter yang lebih banyak (namun tidak menjadi epik), plot yang lebih rumit, pembentukan latar yang lebih penuh, dan eksplorasi tokoh yang lebih sinambung dan mendalam (Abrams, 1984: h. 119). Sebagai sebuah sistem simbolik, novel dibangun oleh motif dan tema. Motif merupakan elemen yang kerap muncul dalam karya sastra, sedangkan tema merujuk pada abstraksi kumpulan motif menjadi klaim atau doktrin, yang disampaikan secara langsung atau tidak langsung, untuk mempengaruhi/ membujuk pembaca (Abrams, 1984: h. 111). Dengan demikian, untuk memahami makna sebuah novel, perlu dilakukan pemecahan wacana novel dalam motif dan tema. Selanjutnya mengelompokkan motif tersebut dalam kategorisasi yang sesuai, kemudian membaca pemaknaan yang terkandung di dalam karya tersebut, bukan hanya pemaknaan tekstual, juga kontekstual.

Untuk mempertajam pemaknaan simbol, akan digunakan pendekatan poskolonial, yang secara tekstual dan kontekstual melihat hubungan antara penjajah dan yang dijajah[4]. Pendekatan ini membantu seorang pengkaji sastra untuk menimbang kompleksitas masyarakat pascakolonialisme, yang ditandai bukan hanya oleh masa berakhirnya kolonialisme, namun lebih jauh bagaimana situasi mental, kultural, dan sosial setelah kolonialisme berakhir.

Pembahasan

            Dalam pembahasan ini, kajian akan diawali dengan mengkategorisasi motif dan tema yang muncul dalam novel. Setelah membaca secara menyeluruh, tema dalam novel ini dikelompokkan menjadi dua, yaitu tema pengakuan dan tema kematian.

  1. Tema Pengakuan

Tema yang mendominasi keseluruhan cerita ini adalah tema pengakuan. Tema pengakuan biasanya muncul dalam roman-roman psikologis yang mengelaborasi keadaan jiwa suatu tokoh pada masa tertentu dalam kehidupannya. Contoh pembanding untuk roman semacam ini adalah The Immoraliste karya Andre Gide, Belenggu karya Armijn Pane, Pada Sebuah Kapal karya NH Dini. Demikian pula Lettre Morte (Surat-surat Mati). Novel ini merupakan pengakuan tokoh wanita muda tentang kehidupan yang ia jalani. Tokoh ini mengakui bahwa sejak ia mengungsi ke Perancis dari Vietnam, ia hampir melupakan ayahnya. Ia juga mengungkapkan rasa bersalah yang ia rasakan, juga berbagai mimpi dan halusinasi yang ia alami, yang muncul sejak menerima berita kematian ayahnya.

Pengakuan, dalam novel ini, ditampilkan dengan sudut pandang orang pertama, sehingga pembaca dapat mengelaborasi apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan oleh si tokoh. Dengan demikian, informasi yang diterima oleh pembaca tidak terdistorsi oleh sudut pandang penceritaan.

Jika mempertimbangkan bentuk Lettre Morte, pengakuan yang menjadi tema utama ini dibingkai dalam tulisan panjang yang menghilangkan pemisah gagasan seperti paragraf, dialog (tanda petik sebagai penanda adanya dialog). Secara semantis, bentuk seperti ini seolah-olah menyatakan apa yang dirasakan oleh tokoh utama menemukan sublimasinya dalam pengakuan ini. Semua yang dirasakan dan dialami yang tadinya begitu berat, diungkapkan satu persatu tanpa jeda.

Pengakuan ini juga menjadi terapi bagi tokoh utama untuk menemukan dan menetralisir sumber-sumber kecemasannya. Dalam pengakuan ini, tokoh utama (saya) yang juga bertindak sebagai narator, melakukan pembicaraan dengan sahabatnya, Sirius. Pada halaman 47, tokoh utama mengatakan “cette lettre que je n’ai pas reçue, j’y réponds maintenant en te parlant” (surat yang belum kuterima itu, kubalas dengan berbicara kepadamu-pen.). Pengakuannya diawali dengan ungkapannya tentang kematian (les morts ne nous lachent pas—orang-orang yang mati tak pernah melepaskan kita (h.9)), kemudian dilanjutkan dengan ungkapan tentang beban yang dirasakannya ketika menghadapi kematian ayahnya (h.9), dan ditutup dengan sebuah penerimaan bahwa kematian merupakan bagian dari hidup manusia (le mort est dans cette chambre, mais il n’est pas là pour me tourmenter—kematian ada di dalam ruang ini, tapi ia ada bukan untuk menyiksaku (h. 105)). Kedudukan tokoh utama seperti seorang pasien sementara sahabatnya adalah psikiater yang membantu pasien menelusuri kegelisahannya.

Tema pengakuan ini sekaligus menjadi pembuka gerbang untuk memahami hubungan antara penjajah dan yang dijajah, antara Perancis dan Vietnam, sehingga makna simbolik pengakuan ini dapat diurai.

  1. Tema kematian

Tema kematian merupakan tema lain yang mendominasi novel ini. Tema ini dimunculkan melalui kata-kata yang merepresentasikan kematian: la mort, le mort, fantôme, squelette, juga melalui deskripsi yang berkaitan dengan kematian. Tema ini, berkebalikan dari tema pengakuan, muncul dalam surat-surat dari ayah tokoh utama yang berada di negeri moyangnya, Vietnam. Surat-surat inilah yang menjadi penghubung antara tokoh utama dengan negeri kelahirannya, juga dengan masa kecilnya. Surat-surat tersebut juga menjadi pemicu munculnya halusinasi dan mimpi tokoh utama. Surat-surat dari sang ayahlah yang menjadi korpus dalam pengakuan tokoh utama.

Di dalam tema kematian ini, dapat dikelompokkan motif-motif yang membentuknya, antara lain:

  1. Motif hubungan keluarga

Hubungan keluarga dalam novel ini digambarkan melalui keluarga tokoh utama, yaitu dirinya sendiri, ayahnya, ibunya, pamannya yang gila, keluarga ibunya, dan keluarga ayahnya. Hubungan keluarga ini sejak awal tidak harmonis sebagaimana diceritakan oleh tokoh utama tentang dirinya bahwa ia sejak bayi dirawat oleh ayahnya dan bukan oleh ibunya walaupun mereka tinggal bersama di bawah satu atap.

Dalam hubungan keluarga ini, muncul motif lain yang mempengaruhi keutuhan keluarga tokoh utama, yaitu:

–          motif rasial

Motif rasial terlihat pada bagian-bagian yang menceritakan bahwa ayah tokoh utama berasal dari Utara sementara ibunya berasal dari Selatan. Deskripsi ini memahamkan pembaca tentang stereotip orang Utara pada masa itu, ketika Vietnam terpecah dua, bahwa Utara identik dengan pengungsi-pengungsi rendah, tidak mau berusaha, parasit bagi kehidupan orang Selatan (h. 25-26).

Stereotip ini mempengaruhi pernikahan ayah dan ibu tokoh utama sehingga – seperti negara mereka yang merupakan entitas politik yang besar – keluarga mereka juga mengalami perpecahan yang sama. Ketegangan yang terjadi akibat situasi yang rasis ini berdampak pada kehidupan tokoh utama. Puncaknya, terjadi pengungsian ketika tokoh utama beranjak remaja (h. 54-55).

Pengungsian tersebut terjadi ketika Vietnam Utara-Selatan mengalami reunifikasi, yang mengakibatkan banyak penduduk Vietnam Selatan mengungsi ke luar negeri atau hidup di perahu-perahu, yang disebut peristiwa diaspora Vietnam, karena ideologi yang berkuasa saat itu adalah komunis. Pengungsian ini mengakibatkan tokoh utama terpisah dari ayahnya. Ibu tokoh utama, yang orang Selatan, memilih mengungsi ke Perancis bersama keluarga besarnya, sementara ayahnya, yang orang Utara, memilih tinggal di Vietnam. Perpisahan ini akan menimbulkan trauma pada tokoh utama.

–          motif kemiskinan

Kemiskinan, yang merupakan masalah jamak di negeri-negeri bekas jajahan, menimbulkan kesulitan untuk mengangkat harkat dan derajat negeri-negeri tersebut pasca kemerdekaannya. Pada latar waktu yang dirujuk dalam novel ini, Vietnam saat itu baru lepas dari penjajahan Perancis, kemudian terjadi perang saudara antara kelompok pro-komunis dan pro-demokrasi. Perang ini pada akhirnya membuat Vietnam terbagi dua: Utara dan Selatan. Motif kemiskinan muncul melalui kehidupan keluarga tokoh utama yang serba tak berkecukupan. Ibu tokoh utama adalah anak keluarga yang cukup berada, sementara ayahnya hanya seorang pengungsi dari Utara yang datang ke Selatan melalui jalur ilegal, tanpa membawa harta benda apapun. Pernikahan keduanya menjadi malapetaka bagi kedua keluarga.

Sang ibu merasa tidak puas dengan penghasilan suaminya yang sangat kecil, menurutnya. Permasalahan keluarga ini bertambah sesak, selain oleh masalah ekonomi, juga masalah rasial. Pertengkaran demi pertengkaran terjadi dengan sebab yang sama, keuangan.

Ayah tokoh utama menanggung semua beban, baik budaya maupun ekonomi, dengan tetap bekerja. Meski demikian ia, seperti kebanyakan orang Vietnam di masa itu, mencari pelampiasan untuk mengurangi tekanan yang ia rasakan dengan minum-minum hingga mabuk dan menghisap opium. Si anak (tokoh utama) selalu berempati kepada ayahnya, yang telah merawatnya dari kecil, kerap juga membantu, bahkan membela ayahnya. Ketika ayah bertengkar dengan ibu karena masalah uang, dan terjadi kekerasan fisik (ibu melempar ayah dengan sepatu yang mengakibatkan ayah terluka), si anak melindungi ayah (h. 50-51). Hubungan kedekatan ini membuat sang anak tidak bersimpati pada ibunya.

Motif kemiskinan juga muncul ketika tokoh utama dewasa. Setelah istri dan anaknya pergi mengungsi, ayah tersiksa hidup sebatang kara. Kemiskinan masih mewarnai hidupnya. Ia melukis dan menjual pakaian di pasar untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Melalui suratnya kepada tokoh utama, ia meminta uang. Pada awalnya, tokoh utama tidak menanggapi namun kemudian tokoh utama mau mengirimkan wesel untuk ayahnya. Ia merasakan perbedaan yang mencolok antara kehidupannya di Perancis dengan kehidupan ayah. Di Perancis, kekasih tokoh utama dapat menghabiskan uang dalam semalam, untuk minum-minum dan pesta, yang nilainya sama dengan kebutuhan ayahnya selama setahun (h. 52-53).

–          motif gangguan jiwa

Motif ini muncul dalam hubungan keluarga tokoh utama melalui paman tokoh utama dari pihak ibu yang mengalami gangguan kejiwaan. Keluarga dari pihak ayah juga ada yang gila, yaitu seorang saudara perempuan ayah. Tokoh lain yang dimunculkan adalah pemain piano gila, putra seorang tetangga tokoh utama ketika ia masih kecil.

Paman gila memainkan peran yang tidak kecil dalam kehidupan tokoh utama. Sejak tokoh utama kecil, paman gila telah tinggal bersama keluarganya dan diurus oleh ayahnya. Paman gila sering menyebut ayah tokoh utama sebagai penguasa neraka sementara ia mengidentifikasi dirinya sendiri sebagai penguasa langit. Ibu tokoh utama kerap disebut sebagai kera pengganggu istirahat para roh. Terkadang tokoh utama sendiri ia sebut sebagai anak setan (h. 30).

Gangguan kejiwaan paman gila ditunjukkan melalui tindakan dan kata-kata yang agresif, menakut-nakuti orang-orang di sekelilingnya, meski tidak pernah sampai menyakiti secara fisik. Ada kalanya paman gila menjadi tenang dan ia dapat mengajak tokoh utama berjalan-jalan, membelikannya sesuatu, bermain-main, namun di saat yang sama ia mengatakan kepada tokoh utama tentang hal-hal mengerikan seperti menyuruhnya membunuh ayah karena ayahnya setan. Kepada ibu tokoh utama, paman gila memiliki kebencian yang terselubung, ditunjukkan melalui peristiwa penusukan boneka (seperti voodoo) yang mewakili ibu. Peristiwa ini terjadi di hadapan tokoh utama, dilakukan sambil mengucapkan mantra-mantra (h. 72).

Pada waktu-waktu tertentu, paman gila menjadi sangat agresif sehingga ia harus diikat. Pada saat seperti itu, selalu timbul kekacauan di rumah keluarga itu. Ayah akan sibuk mengikat paman gila, yang berusaha berontak dan memaki-maki, sementara ibu turut berteriak-teriak mengeluhkan mengapa hal tersebut terjadi dalam hidupnya. Peristiwa ini dianggap seperti permainan boneka oleh tokoh utama, di mana ia duduk sebagai penonton (h. 73).

Pengaruh paman gila pada tokoh utama terlihat ketika ia dewasa. Tokoh utama merasa terobsesi oleh kematian ayahnya sehingga ia kerap mengalami halusinasi dan bermimpi buruk. Sosok paman gila dan ayahnya selalu menghantui tokoh utama dalam halusinasinya. Akibatnya tokoh utama merasa terkadang ia pun menjadi gila karena tidak mampu membedakan antara kenyataan dan ilusinya. Terkadang akibat obsesinya, tokoh utama berjalan-jalan tanpa tentu arah di luar rumah untuk melepaskan diri dari halusinasinya. Ketika tokoh utama bimbang memutuskan akan kembali ke tanah kelahirannya dan menjenguk ayahnya, ia memilih menulis surat kepada paman gila yang juga berada di Perancis.

Obsesi terhadap kematian yang dialami tokoh utama dipicu oleh rasa bersalahnya terhadap ayah sehingga mengakibatkan munculnya halusinasi dan bermimpi buruk. Pada akhirnya tokoh utama pun mengalami gangguan kejiwaan pada tahap neurosis, yaitu mengalami kecemasan luar biasa yang menghambat kemampuan egonya untuk melaksanakan mekanisme represi.

  1. Motif hubungan percintaan

Motif ini muncul dalam hubungan tokoh utama dengan kekasihnya, yang ia sebut Morgue—tempat orang mati (pen.). Oleh karena itu, motif hubungan percintaan menjadi bagian dari tema kematian. Hubungan percintaan tokoh utama diawali dari keinginannya untuk menjalin hubungan dengan seorang pria beristri. Ia menganggap keinginan semacam itu biasa saja (h. 19). Hal ini kemudian mengakibatkan penderitaan bagi tokoh utama karena ternyata kekasihnya hanyalah pengobral janji.

Hubungan keduanya berjalan tidak seimbang. Morgue selalu ingin memuaskan diri untuk bersenang-senang dengan tokoh utama dan meiliki seluruh cintanya sementara ia sama sekali tidak mempertimbangkan keinginan tokoh utama untuk memastikan hubungan mereka. Ia selalu mengatakan bahwa ia tidak menjanjikan apapun dalam hubungan mereka karena ia masih tetap ingin mempertahankan keluarganya yang telah mapan. Hubungan seperti ini membuat tokoh utama tertekan, dan merasa seperti pelacur yang bersedia tidur dengan siapapun asal dibayar.

Hubungan percintaan ini pula yang membuat tokoh utama lupa pada surat-surat ayahnya yang berisi keinginan ayahnya agar ia kembali ke tanah kelahiran. Ia meninggalkan ayahnya demi kekasih yang sebenarnya tidak layak menerima pengorbanannya, dan melupakan sang ayah yang telah merawatnya sejak kecil dengan penuh kasih sayang. Kejadian ini memperbesar rasa bersalahnya pada ayah.

 Kecemasan yang bertumpuk akibat rasa bersalah kepada ayah dan ketidakpastian hubungannya dengan Morgue membuat tokoh utama mengalami gejala neurosis, yang digambarkan oleh tokoh utama sebagai ‘perasaan gila’.

            Pembahasan tema dan motif ini dilanjutkan dengan menelusuri pemaknaannya dalam konteks hubungan penjajah dan dijajah. Pada tataran cerita (naratif), novel ini mengungkapkan pengakuan seorang wanita muda keturunan Vietnam yang mengungsi ke Perancis, yang berisi rasa bersalahnya terhadap sang ayah serta tekanan yang ia rasakan dalam hubungan percintaannya dengan lelaki Perancis yang beristri. Sementara pada tataran penuturan (narasi), novel ini tidak semata membincangkan kisah-kisah sentimental, namun juga membahas hubungan Perancis-Vietnam, penjajah dan yang dijajah, pada masa yang jauh sesudah berakhirnya kolonialisme Perancis di Vietnam. Dalam eseinya tentang Linda Lê, Yeager memperlihatkan bahwa beberapa karya Linda Lê secara simbolik memperlihatkan hubungan antara penjajah dan dijajah. Kekhasan Lê salah satunya adalah menghapuskan jejak penanda Vietnam dalam karyanya, yang sekaligus merupakan pernyataannya untuk menghapuskan hubungannya dengan masa lalu, sejarahnya, tanah kelahirannya. Berkebalikan dari pengamatan Yeager, novel Lettre Morte menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan. Dengan cara proporsional, Lê menggunakan penanda Vietnam secara eksplisit, misalnya penggunaan bahasa Vietnam (en vietnamien) saat tokoh utama menerima berita kematian ayahnya melalui telpon. Warna-warna lokal juga dapat kita temukan seperti penggambaran suasana hari raya di negeri kelahirannya—yang membuat kita menduga bahwa hari besar yang dimaksud adalah hari raya Tet, penggambaran upacara pemakaman yang khas Vietnam di mana keluarga yang berduka mengenakan kerudung putih—yang bermakna duka, juga penggambaran peristiwa pemisahan Utara-Selatan.

            Pada tataran narasi (tingkat pemaknaan kedua, level konotasi dan simbol), Lettre Morte merupakan alusi hubungan penjajah dan dijajah. Tokoh utama merupakan sosok yang hidup di sebuah dunia yang bertolak belakang dari negeri kelahirannya. Kepergiannya dari negeri kelahirannya merupakan pencabutan secara paksa dari akar budayanya, tempat yang ia cintai. Apalagi kepergian ini untuk mengungsi, suatu sarana politik yang secara kemanusiaan merobek keterikatan mereka dengan tanah airnya, dan memasuki negeri yang sama sekali asing secara sosial dan budaya.

            Surat-surat ayah tokoh utama merupakan simbol keterikatan dengan tanah air, negeri yang ditinggalkan. Di dalamnya ada kenangan masa lalu dan cerita masa kini yang membuat keterikatannya dengan negeri moyangnya tetap terjaga. Ketika surat-surat itu berhenti karena meninggalnya ayah maka hilanglah hubungan dengan masa lalu dan dengan negeri kelahiran. Duka terbesar bagi manusia ketika ia tidak lagi memiliki masa lalu. Mengubur masa lalu sama dengan mengubur sebagian diri (c’est une moitié de moi-même qui s’est tué (h. 18)).

            Kisah tokoh utama sebagai keturunan Vietnam di Perancis menggambarkan keadaan para pengungsi yang tinggal di negeri bekas penjajah mereka. Morgue merupakan simbol dari negara Perancis dan istri Morgue yang kedudukannya ingin digantikan oleh tokoh utama merupakan simbol dari keinginan mereka (para pengungsi) untuk diakui secara egaliter dengan rakyat Perancis lainnya. Namun kenyataannya, para pengungsi tersebut tidak diperlakukan secara egaliter, mereka akan tetap menjadi ‘pelacur’ yang bermakna penduduk yang terpinggirkan, yang tidak pantas diperlakukan sama dengan para ‘istri sah’, yaitu penduduk yang diakui sebagai warga Perancis baik secara hukum maupun social. Apapun upaya yang dilakukan oleh ‘pelacur’, ‘Morgue’ akan selalu memilih ‘istrinya yang sah’ (h. 95).

            ‘Pelacur’ merupakan simbol dari orang-orang yang sudah terlepas dari masa lalunya, dari nilai-nilai historisnya, sementara masa depannya penuh ketidakpastian. Penderitaan, perasaan tertekan hanyalah kondisi permukaan yang mereka rasakan. Ingin kembali ke negerinya sendiri, namun tak lagi memiliki keterikatan dengan tanah kelahiran, seperti terlihat pada gambaran keluarga ibu tokoh utama. Satu-satunya yang dapat dilakukan, sebagaimana tokoh utama, adalah tetap bertahan dengan penderitaan itu dan menemukan kesenangan dalam penderitaan. Oleh karena itu, keputusan tokoh utama untuk kembali ke tanah air, menghadiri penguburan ayah dan memutuskan hubungan dengan Morgue—dengan cara simbolik, meletakkan sapu tangan hitam Morgue ke dalam peti mati ayahnya, serta memilih menerima kehidupannya yang baru bersama kenangan dengan ayah, merupakan simbolisasi dari sebuah sikap radikal, yang dapat menjadi alternatif bagi mereka.

            Memutuskan hubungan dengan Morgue berarti secara imajiner melepaskan keterikatan terhadap ‘Perancis yang egois’, membangun sendiri otoritasnya untuk menjadi warga Perancis yang egaliter, mendapat pengakuan sejajar. Memilih hidup dengan kenangan terhadap ayah menunjukkan sikap progresif tokoh utama bahwa kenangan akan tanah air berguna untuk mendampingi para pengungsi agar terus maju. Dengan demikian, Lê mengukuhkan pengakuannya bahwa ia merasa sebagai warga Perancis. Bahasa Perancis sebagai bahasa penjajah ia gunakan sebagai alat untuk mengukuhkan diri sebagai warga Negara berbahasa Perancis. Hal ini bermakna bahwa Lê memiliki wilayah otoritasnya sendiri, yaitu kebahasaan, yang ia maknai berbeda dengan Perancis sebagai negara (dengan Morgue sebagai simbol).

Simpulan

Karya Le ini menunjukkan bahwa pemaknaan terhadapnya dapat dilakukan pada dua tataran, yaitu tataran cerita (sebagai tanda yang berfungsi komunikasi) yang terbentuk dari satuan-satuan motif dan tema, serta tataran penuturan (sebagai simbol dari hubungan penjajah-dijajah) yang terbentuk dari pemaknaan secara kontekstual terhadap penanda-penanda yang memiliki fungsi konotatif.

Daftar Pustaka

Le, Linda. Lettre Morte. Paris: Christian Bourgois Editeur, 1999.

Yeager, Jack. “Culture, Citizenship, Nation: The narrative texts or Linda Le” dalam Post-Colonial Cultures in France (Alec G. Hargreaves dan Mark McKinney). London: Routledge, 1997.

Abrams, M.H. Glossary of Literary Terms. London: Routledge, 1984.

Anonym. Semiotics and Narratives.

Ringkasan Cerita

            Dalam Lettre Morte, Lê menulis tentang pengakuan seorang wanita muda yang terobsesi oleh rasa bersalah dalam menghadapi kematian ayahnya. Obsesi ini berubah menjadi obsesi terhadap kematian. Dengan menggunakan penutur orang pertama ‘saya’, narator menceritakan kisah hidupnya sejak mengungsi ke Perancis.

            Obsesi ini mulai muncul sejak kematian ayah yang berada di tanah kelahiran. Surat-surat dari ayah yang dikirim secara rutin kepada tokoh utama, yang berada di Perancis, menjadi pemicu obsesi tersebut. Ia muncul dalam wujud rasa bersalah karena telah mengabaikan sang ayah, membiarkannya menghadapi hari-hari terakhir hidupnya seorang diri, tanpa ia temani. Pengabaian ini terjadi karena hadirnya kekasih, Morgue, seorang lelaki Perancis yang telah berkeluarga. Si wanita muda menjadi simpanan Morgue, tanpa harapan akan dinikahi suatu hari nanti. Sejak mengenal Morgue, si wanita berubah menjadi sosok yang tertekan, menderita, dan hampir gila. Morgue adalah tipe lelaki yang pandai menaklukkan wanita, egois, ingin mendapatkan kesenangan dengan cara apapun, tidak peduli pada orang-orang di dekatnya. Si wanita terperangkap dalam janji-janji Morgue sehingga ia terobsesi oleh cintanya pada Morgue.

            Penderitaan yang ia rasakan membuatnya hampir mati bunuh diri dan hampir gila karena tak menemukan jalan keluar dari kebuntuan tersebut. Berkali-kali si wanita mengalami mimpi buruk yang membuatnya semakin tertekan dan mulai mencampuradukkan antara ilusi dan kenyataan. Ia melihat ayahnya berada di sisinya padahal saat itu ia tengah bersama Sirius, sahabatnya. Berulang kali pula ia mengalami halusinasi roh sang ayah akibat terobsesi oleh rasa bersalahnya. Kenangan masa kecilnya pun muncul bergantian ketika ia rindu pada ayah.

            Ketika ia kecil, Vietnam terpisah menjadi Utara dan Selatan. Ayahnya seorang Utara yang mengungsi ke Selatan kemudian menikah dengan seorang wanita Selatan (ibu). Pernikahan ini diwarnai prasangka rasial dari pihak keluarga ibu yang memandang rendah orang Utara. Setelah melahirkan, sang ibu sama sekali tidak mau merawat anaknya (tokoh utama). Ayah yang merawat putrinya dengan penuh kasih sayang. Sikap ibu kepada ayah berubah seiring pengaruh kebencian keluarganya terhadap ayah. Puncaknya terjadi ketika ibu memutuskan mengungsi ke Perancis dan membawa serta putrinya dan meninggalkan ayah seorang diri di Vietnam.

            Selama dua puluh tahun sejak peristiwa itu, ayah dengan setia menulis surat kepada putrinya dan kabar terakhir untuk putrinya adalah berita kematiannya. Kedatangan si wanita ke penguburan ayah di Vietnam diwarnai oleh tuduhan dari pihak keluarga ayah yang menganggap dirinya bersalah karena meninggalkan ayah seorang diri. Namun kedatangan ini justru menjadi akhir dari penderitaannya karena ia memutuskan untuk mengubur masa lalunya bersama sang ayah dan mengubur kenangannya tentang Morgue dengan meninggalkan lelaki tersebut. Obsesinya terhadap kematian tetap hadir namun kini ia tak lagi dihantui oleh rasa bersalah.


[1] Untuk dipresentasikan dalam SEMINAR SEMIOTIK dalam SASTRA, LINGUISTIK, dan MEDIA, tanggal 30 November 2012, di Aula SC UIN Jakarta.

[2] Lembaga ini jumlahnya banyak namun juga terjamin mutunya. Tugas mereka terutama untuk menentukan baik-buruknya sebuah karya.

[3] Dikutip oleh Yeager dari harian L’Express, “C’est l’epoque”, tanggal 16 Desember 1993.

[4] Untuk memahami pendekatan poskolonial, telah banyak buku rujukan yang diterbitkan. Dalam landasan teori ini, hanya disampaikan kerangka berpikirnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: