Language in Diversity

Sastra (Indonesia) Gaya Intelektualisme BUKAN Gaya Seks

Bertaburannya karya sastra Indonesia dewasa ini ternyata banyak yang hanya menjadi bahan bacaan pengisi waktu lenggang dan sebagai bahan bacaan hiburan semata. Para pembaca dan penikmat karya sastra kurang sekali melakukan kritik apalagi memberi saran. Mereka lebih banyak sebagai konsumen, penikmat atau bahkan pecandu, belum menciptakan produksi baru dari karya sastra yang telah dibaca misalnya, melakukan kritik sastra yang membangun dan mencerdaskan.

Masalah itu juga terletak pada pengarang yang memanjakan penikmatnya dengan menyuguhkan karya sastra yang anti-intelektualisme dan cuma sebagai barang bacaan pengobat penat semata bahkan lebih dari itu, mengundang hasrat birahi secara manusiawi. Sejatinya, karya sastra itu memberikan semangat intelektual yang mumpuni bagi peminatnya dan menyuguhkan karya yang menyadarkan akan pentingnya memaknai realitas dalam ruang sastra atau sebaliknya.
Beberapa pengarang yang disebut anti-intelektualisme kita temukan dalam puisi primitivisme yang mengigit Sutardji Calzoum Bachri, puisi urakan Darmanto JT, dan puisi-puisi mistik Abdul Hadi WM. Dalam cerita pendek, Danarto adalah pengarang terkuat dari sastra mistik yang sama sekali bersikap anti-intelektualisme. Beberapa pengarang disebut anti-intelektualisme itu terdapat pada esai-esai budaya dan masyarakat karangan Kuntowijoyo terbitan Tiara Wacana 1997.

Sekarang, dengan perspektif yang berbeda, banyak karya sastra anti-intelektualisme bermunculan dengan tema yang bukan lagi melangit. Tetapi, karya-karya sastra yang menjadikan imaji seks yang liar, dan itu terjual dengan laris. Berbeda dengan para pengarang yang disebutkan sebelumnya, Ayu Utami dan Djenar Mahesa Ayu (Cerpen) misalnya, telah memancing beberapa pengarang muda yang lain untuk mengikuti jejak mereka yang menjadikan karya sastra begitu liar jauh dari kesantunan dan kesan keilmuannya. Salah satu cerpen Djenar Mahesa Ayu berjudul ”Memek”, menurut penulis terlalu vulgar, seakan tak ada bahan lain yang lebih mencerdaskan dan menyadarkan daripada mengarang seputar daerah selangkangan.

Banyak para ilmuan yang mengambil model sastra sebagai gaya keilmuannya bukan model sastra sebagai penggoda iman. Misalnya dalam buku Literature and the political Imagiantion (1996) yang diedit oleh J. Horton dan Andrea T. Baumesiter berbicara secara khusus tentang inspirasi yang bisa diambil dari sastra (terutama narasi) oleh ilmu politik, tentunya bukan dari karya yang bicara seputar selangkangan. Secara lebih umum buku serupa kita temukan dalam Contingency, Irony, Solidarity (1989) karya Richard Rorty yang pengaruhnya luar biasa–termasuk atas buku yang diedit Horton dan Baumesiter itu, sebagaimana yang ditulis ST. Sunardi dalam Majalah Basis dua tahun yang lalu.

Dalam hal model sastra sebagai gaya keilmuan, tambah maju kita bukan malah tambah puritan tetapi membuka lahan bagi intelektual humaniora untuk menjelajah wilayah-wilayah baru dan memberikan perangkat analisis yang sekaligus mengangkat posisi humaniora untuk ”membaca” gejala-gejala zaman. Menurut Melani Budianta (2004), bagi sejumlah praktisi kajian budaya seperti Tony Bennett dan Laura Mulvey, kajian budaya bukanlah sekadar pemberdayaan kaum intelektual humaniora. Ada harapan bahwa kemampuan membaca juga membawa kemampuan ”intervensi” terhadap sejumlah praktik budaya (karya sastra) yang menekan; bahwa dengan menunjukkan daya mempermainkan atau mengelak kekangan dalam berbagai wacana budaya sehari-hari.

Nah, oleh karena itu, manakah yang lebih penting, berkarya dengan berkutat seputar selangkang atau memberikan kesadaran melalui karya sastra yang menampilkan isi cerita yang berkualitas sosial dan intelektual? Lebih jauh lagi ST Sunardi mengatakan bahwa tema dan isi yang akan kita jadikan sebagai sebuah karya mestinya menggunakan bahasa yang longgar dan bermain dengan dirinya sendiri. Tetapi, tentunya pembaca mendapatkan manfaat, pencerahan, dan keindahan bahasa yang menggetarkan.

(AU: dalam pencarian)

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: