Language in Diversity

SEKS & SASTRA

SEKS dan SASTRA[1]

            Sastra dan seks adalah dua hal yang sangat berjauhan, sastra adalah salah satu cabang dari ilmu humaniora sedangkan seks adalah bagian dari ilmu biologi, tetapi, itulah beruntungnya kita di”masuk’kan ke dalam golongan orang-orang yang harus intens terhadap humaniora sehingga apapun bisa kita hubungkan, karena memang pada dasarnya segala yang ada di muka bumi ini bersangkutan dengan kemanusiaan. Untuk itu sastra dan seks sah-sah saja untuk kita kolaborasikan.

            Sastra, menurut A.Teeuw adalah kata yang berasal dari bahasa sangsekerta yang berarti alat untuk mengajar atau memberitahukan.[2] Sedangkan menurut Hamdan dalam artikelnya “Sastra dan Agama” ia mengutip dari Bagyo. S (1986:7)[3] mengatakaan bahwa sastra biasanya diartikan sebagai karangan dengan bahasa yang indah dan isi yang baik. Bahasa yang indah artinya bisa menimbulkan kesan menghibur pembacanya. Sedangkan isi yang baik artinya berguna dan bernilai pendidikan. Indah dan baik ini menjadi fungsi sastra yang terkenal dengan istilah dulce et utile. Bentuk fisik dari sastra disebut karya sastra, penulis karya sastra disebut sastrawan.

            Sedangkan seks adalah 1. jenis kelamin, 2. yang berhubungan dengan alat kelamin, seperti senggama, dan 3. berahi.[4] Orang yang doyan seks disebut seks maniak, orang yang ahli membahas ilmu-ilmu yang berkaitan dengan alat kelamin disebut seksolog sedangkan ilmunya disebut seksologi.[5] Pada zaman-zaman sebelum abad 19, wacana ini sangat ditabukan, diskusi-diskusi mengenainya cenderung tertutup, bahkan mungkin itu hanya menjadi pembicaraan atas ranjang. Semua itu terlebih disebabkan oleh faktor budaya yang menganggap seks sebagai selera rendah manusia, untuk itu harus ditutupi, karena -lagi-lagi agama yang menjadi tamengnya, melarang umatnya untuk tidak mengkerangkengkan sesuatu yang katanya sebagai salah satu sumber kehormatan itu. Mallu!

            Dunia terus berputar, ilmu pengetahuan semakin berkembang, sains dan teknologi mencuat, semua informasi dalam hitungan detik dapat kita dapatkan, walau pun itu dari ujung dunia yang kita sendiri pun belum pernah menjamahnya, dengan bantuan teknologi. Lambat laun, seiring berkembangnya sains dan teknologi, masyarakat Indonesia kian egaliter, plural, kian menunjukkan kedinamisan, bahkan ke-liberal-an. Mereka sudah mulai menjauhi tabu, berani membuka tabir, terbuka membicarakan hal”tabu” itu, seminar-seminar yang membahas masalah ini cenderung padat dipenuhi peserta, buku-buku yang membicarakan seks kerap lebih bahkan sangat lebih laku ketimbang buku-buku yang lain. Salah satu contoh Moamar M.K dengan Jakarta Undergroundnya dalam satu tahun tercatat sudah kurang lebih lima kali  cetak ulang.

            Sastra yang dulunya sempat ditabukan juga, kini akan dengan mudah kita jumpai siapapun membaca karya sastra, hatta tukang beca. [6] Bahkan dewasa ini berkembang wacana sastra yang berbau-bau seks yang dulunya juga sangat ditabukan. Tetapi ironisnya kehadiran duet ini melahirkan kontroversial yang tak kunjung selesai. Sebagian golongan melihat perkembangan ini sebagai perkembangan wacana masyarakat Indonesia terkhusus penggiat sastra sehingga adalah wajar jika mereka melakukan intertekstual terhadap karyanya. Golongan kedua mengatakan bahwa karya-karya yang mengusung seks adalah karya-karya yang tidak mencerdaskan bahkan memalukan, karena karya itu tidak lebih mengajarkan pembaca untuk sama-sama membuka cawat, dan bersama-sama memainkan alat kelamin. Sedangkan golongan ketiga, adalah golongan orang yang menikmati karya-karya yang berbau seks tetapi juga menghujatnya.

            Fadhilah, seorang pengamat sastra, berpendapat bahwa teks seks dalam sastra Indonesia modern adalah mimikri tradisi sastra peradaban Barat di Zaman Victorian yang puritan[7]. Pendapat ini menguatkan pandangan Goenawan Muhammad yang menganggap seks adalah suatu resiko dalam kesusastraan Indonesia modern.[8] Seks dianggap sebagaii symbol reaksi, lambing revolusi menurut kesusastraan barat abad 19 dan awal abad 20.[9]

            Pada masa pemerintahan orde baru, teks social meupun politik dalam sastra Indonesia (sastra social) dianggap urusan subversif (tabu) dan mengandung resiko yang sangat fatal, seperti Pramudya Ananta Toer yang pernah masuk penjara disebabkan karyanya yang mengritik pemerintahan pada masa itu. Pada orde itu sastra sosial lebih beresiko ketimbang sastra seks, sehingga tangan-tangan penguasa  akan bebas memberangus teksnya maupun mencokok sastrawannya. Tetapi kini, resiko teks sastra seks (Saman; Ayu Utami, Jangan Main-main dengan Kelaminmu; Djenar Maesa Ayu, hanya menyebut beberapa) dalam kesusastraan Indonesia lebih beresiko ketimbang sastra social, mereka tidak lagi berhadapan dengan kekuasaan negara, melainkan menangguk sinisme maupun cemooh dari sebagian sastrawan, pengamat sastra, dan masyarakat kita sendiri dengan alasan “moral”.[10]  Seks sering dianggap mengganggu atau merusak, padahal yang terjadi adalah karena pandangan moral masyarakat sudah kadung mengganggap seks yang hadir terang benderang sebagai yang mengganggu dan merusak sehingga mereka mereka merasa terintimidasi atau terancam.

            Seks yang sering dikaitkan dengan ketelanjangan tubuh atau pornografi itu telah mengalami paradoks; dalam kehidupan sehari-hari keberadaannya diterima sebagai sesuatu yang alami, tetapi dalam falsafah maupun pandangan moral masyarakat sering dipersoalkan penuh ketegangan. Bukankah seks yang diterima sebagaimana adanya, secara rileks layaknya tubuh yang telanjang, adalah juga dapat menjadi metafor tentang kebanaran yang membuka seluruh tabir penyekatnya?[11]

            Berbeda dengan Goenawan Muhammad, ia berpendapat bahwa selama keintiman dengan khalayak belum pulih kembali dalam diri seorang pengarang, selama hubungan antara kesusastraan dengan masyarakatnya belum tenteram, selama kesusastraan masih belum bebas dari sikapnya yang self conscious dan kikuk, selama itu pula banyak hal yang takut untuk dibicarakan atau sebaliknya terlalu keras diteriakkan, termasuk seks. Dengan demikian yang menjadi persoalan bukanlah hadir atau tidaknya seks adalam sastra, tetapi wajar atau tidaknya suatu pengucapan literer. Dengan demikian kita tidak bisa secara mudah menilai suatu kesusastraan yang tanpa seks sebagai lebih atau kurang, sebab yang menentukan di sini adalah sikap pengarang terhadap maslah itu.

(AU-dalam pencarian)


[1] Tema yang  membuat penulis penasaran akan keduanya. Tema ini datang dari curhatan temanya yang tak tahu kemana arahnya.

[2] A. Teeuw, Sastra dan Ilmu Sastra, Pengantar teori Sastra, Pustaka Jaya, Jakarta, cet. 1. 1984, h. 23

[3] www.cybersastra  03-09-2004

[4] Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ketiga, cet, 2, Jakarta, Balai Pustaka, 2002, h. 1014

[5] idem

[6] Konon katanya, dahulu kala, sastra adalah milik orang-orang krtaon, milik orang-orang yang berilmu, dan penggiatnya lebih dikenal sebagai orang yang ahli segala macam ilmu, .

[7]Fadhilah, Teks Seks, Sebagai Resiko dalam Sastra, Kompas, 28/11/2004. h. 17

[8] Goenawan Muhammad, Seks, Sastra, Kita, Sinar Harapan, Jakarta, cet. 2. 1981. h. 1

[9] Goenawan Muhammad, ibid, h. 9

[10] Binhad Nurrohmat, Menodai Sastra Seks, Kompas, 19/12/2004, h. 17

[11] Binhad Nurrohmat, ibid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: