Language in Diversity

Posts tagged ‘Analisis dan Pengembangan Teori Lawrence Venuti Domestikasi danForeignisasi’

TEORI LAWRENCE VENUTI (Domestikasi & Foreignisasi)

Analisis dan Pengembangan Teori Lawrence Venuti

Domestikasi danForeignisasi

Kajian Diskusi – by SITI ANNISA FITRIANI (pemateri adalah mahasiswa bahasa dan sastra Inggris (BSI) dan anggota UKM-BAHASA FLAT (Foreign Languages Association)  UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. ..

A. Bahasa dan penerjemahan         

Bahasa merupakan unsur penting bagi kehidupan manusia khususnya dalam hal berkomunikasi. Inti dari berkomunikasi adalah adanya pemahaman terhadap hal yang dikomunikasikan. Dalam berkomunikasi, bahasa digunakan sebagai alat untuk menyampaikan ide dan perasaan seseorang. Di dunia ini terdapat berbagai jenis bahasa dan asal-usulnya. Tiap-tiap bahasa itu memiliki ciri khas atau keunikan masing-masing baik dari segi aturan gramatikal, jenis huruf, pengucapan, hingga keragaman suku katanya.

            Keberagaman bahasa membuat hambatan bagi orang-orang yang belajar bahasa asing. Struktur kalimat yang berbeda antara bahasa yang satu dengan yang lain menuntut kita agar mehamaminya. Salah satu cara untuk mengatasi hal itu adalah dengan memakai  produk penerjemahan. Dewasa ini, penerjemahan adalah kegiatan yang sangat penting. Terlebih lagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat mengharuskan kita bekerja lebih cepat.

Mayoritas produk hasil perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut dibuat dalam bahasa asing, terutama bahasa Inggris yang merupakan bahasa universal, seperti buku, koran, majalah, jurnal, esai, dan lain-lain, baik dalam bentuk cetak maupun elektronik yang dipublikasikan dalam internet. Dengan demikian, untuk menguasai dan memperbarui informasi akan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa harus menguasai terlebih dahulu bahasa asing tersebut, mengharuskan para penerjemah membuat hasil penerjemahan yang baik.

Mekipun demikian, produk penerjemahan seringkali dianggap sebelah mata. Hal ini bisa disebabkan oleh hasil penerjemahan yang kurang baik atau tingkat keberterimaan dalam bahasa sasaran yang kurang. Menerjemahkan tidak hanya sekedar mengalihbahasakan suatu bahasa sumber ke bahasa sasaran melainkan juga ‘mengalihbudayakannya’. Denagn menerapkan teori penerjemahan yang tepat, tentunya akan sangat membantu menghasilkan terjemahan yang baik. Salah satu teori penerjemahan yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah Domestikasi dan Foreignisasi.

B. Pengertian dan Fungsi Domestikasi dan Foreignisasi

Teori Domestikasi dan Foreignisasi adalah dua strategi dasar penerjemahan. Menurut Yang (2010: 77) “Domestication and foreignization are two basic translation strategies which provide both linguistic and cultural guidance.”[1] Proses pengadaptasian dalam menerjemahkan adalah hal yang sangat penting, karena menerjemahkan tidak hanya melibatkan bahasa yang berbeda tetapi juga budaya yang berbeda. Sayogie (2009: 74-75) menyatakan,

“Dalam penerjemahan, ada satu prinsip universal, terutama dalam menerjemahkan dari dan ke dalam bahasa yang begitu berbeda seperti bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Prinsip itu ialah bahwa informasi yang diungkapkan dalam satu bahasa harus diungkapkan setepat dan sejelas mungkin dalam bahasa lain. Penerjemah harus terus-menerus menyadari bahwa bukan kata-kata, tetapi informasilah yang harus disampaikan. Oleh karena itu, urutan kata dan urutan pikiran, serta latar belakang budaya kata-kata, dapat berbeda sekali antara bahasa Indonesia dan bahasa lain, keseluruhan informasi sebuah kalimat, atau sebetulnya seluruh paragraf, harus dimengerti secara mendalam.”[2]

Teori Domestikasi digunakan dalam proses menerjemahkan dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris, sedangkan Foreignisasi digunakan dalam proses menerjemahkan bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Keduanya merupakan prosedur penerjemahan yang bertujuan untuk mengadaptasikan kata, kalimat, ataupun istilah dari bahasa sumber ke bahasa sasaran dengan poin yang berbeda. Yang (2010: 77) “Domestication designates the type of translation in which transparent, a fluent style is adopted to minimize the strangeness of the foreign text for target language readers; while foreignization means a target text is produced which deliberately breaks target conventions by retaining something of the foreigness of the original.”[3]

C. Contoh  Penerapan Teori Domesticating dalam Penerjemahan

  1. Dalam kata dan frasa

1. Selamat Malamà Good Evening

Silalahi (2009: 47) menjabarkan, “Good evening”, misalnya, mempunyai konsep yang sepadan dengan sapaan “Selamat malam?”. Penutur asli bahasa Indonesia akan mengucapkan “ Selamat malam” apabila hari sudah gelap. Penutur asli bahasa Inggris akan mengucapkan sapaan “Good evening” bukan atas dasar gelap tidaknya hari. Masyarakat Houston di Texas, misalnya akan mengucapkan sapaan tersebut meskipun hari masih terang dan waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam dengan matahari masih bersinar terang benderang.”[4]

Pemadanan kata sapaan yang sederhana seperti ini ternyata menyimpan unsur perbedaan yang mendalam. Karena faktor goegrafis yang berbeda-beda dari tiap negara menyebabkan seorang penerjemah harus benar-benar paham akan konteks yang dimaksud dari “Good Evening” dalam bahasa Inggris dengan kata “Selamat malam” dalam bahasa Indonesia.

2. Rasa Sapi Panggangà Barbecue

Sering kita melihat frase tersebut pada kemasan panganan ringan untuk anak-anak atau padanan untuk rasa makanan yang dimasak dengan cara dipanggang (“rasa barbecue”). Secara umum masyarakat Indonesia memadankannya dengan kata (rasa) “barbecue” saja padahal dalam bahasa Inggris kata “barbecue” itu adalah sejenis alat untuk memanggang. Kesalahan umum seperti ini harus dihindari oleh seorang penerjemah agar pesan yang dimaksud pada bahasa sumber benar-benar berterima pada bahasa sasarannya.

b. Dalam Kalimat

1. Kalimat The mustang was the fastest in the race lebih baik diterjemahkan dengan menyertakan konteksnya bahwa “mustang” adalah jenis kuda, dan diterjemahkan menjadi Kuda mustang itu adalah yang tercepat dalam pacuan tersebut.[5]

2. Kalimat Ayahnya pergi ke Makassar naik Garuda lebih baik diterjemahkan juga dengan menyertakan konteksnya seperti pada nomor satu, bahwa “Garuda” adalah salah satu maskapai penerbangan di Indonesia, dan diterjemahkan menjadi His father goes to Makassar by using Garuda Indonesia Airlines.

Contoh penerjemahan diatas harus disertakan dengan konteks yang dimaksud bahasa sumber, terlebih lagi jika terdapat ungkapan-ungkapan yang erat dengan kebudayaan. Machali menambahkan (2009: 103) apabila semua prosedur penerjemahan itu tidak dapat menghasilkan padanan yang diharapkan, langkah yang dapat dilakukan adalah dengan pemadanan bercatatan. Hal ini berlaku misalnya dalam penerjemahan kata atau ungkapan yang padanan leksikalnya sama sekali tidak ada dalam Bsa (bahasa sasaran) seperti kata sarung, batik, gado-gado. Maka penerjemahannya dapat dilakukan dengan memberinya catatan (baik sebagai catatan kaki maupun sebagi catatan akhir)[6].

D. Contoh Penerapan Teori Foreignisasi dalam Penerjemahan

a. Dalam kata dan frasa

1. Pada salah satu acara kuliner Masterchef Australia di sebuah stasiun televisi swasta Indonesia, terjemahan percakapan yang ditampilkan untuk kata “pork” menjadi “daging merah” atau “daging” saja tanpa menyebutkan secara spesifik menjadi “daging babi”. Penerjemah melakukan hal demikian dengan tujuan untuk “menghaluskan” bahasa mengingat penduduk Indonesia mayoritas beragama Islam dan mengharamkan daging babi. Oleh karena itu resep masakan yang ditampilkan di acara tesebut dapat diterapkan oleh para penontonnya tanpa harus mempertimbangkan kembali karena ketidakhalalan bahan yang digunakan dapat disubstitusi ke bahan lain seperti daging sapi, kambing, atau yang lain yang halal menurut Islam.

2. Kata cold untuk jenis penyakit dapat dipadankan dengan kata “masuk angin” atau “meriang” dalam bahasa Indonesia karena cold itu sendiri tidak dapat diartikan menjadi “sakit dingin” yang tidak berterima dalm bahasa Indonesia.

b. Dalam kalimat

     Kalimat she is my little doggy diterjemahkan menjadi dia adalah anak kesayanganku adalah hal yang tepat. mengingat konotasi kata doggy (dog) atau anjing dalam bahasa Indonesia itu buruk berbeda dengan budaya dari penutur asli yang menganggap anjing adalah hewan peliharaan yang baik, lucu dan dianggap sebagai sahabat  manusia menjadikannya bermakna “kesayangan” untuk padanan katanya dalam bahasa Indonesia. perbedaan unsur budaya seperti ini harus dikuasai dan dipahami oleh seorang penerjemah.

E. Kesimpulan

Konsep teori Domestikasi dan Foreignisasi memudahkan penerjemah dalam memadupadankan bahasa sumber ke bahasa sasaran dengan memahami unsur linguistik dan kebudayaan antar bahasanya sehingga menghasilkan produk terjemahan dengan tingkat keberterimaan yang baik.

F. Pustaka Acuan

Rochayah Machali, 2009, Pedoman bagi Penerjemah, Penerbit Kaifa, Bandung.

Sayogie, Frans, Teori dan Praktek Penerjemahan Bahasa Inggris ke dalam Bahasa Indonesia, Pustaka Anak Negeri, Tangerang.

Silalahi, Roswita, 2009, Dampak Teknik, Metode, dan Ideologi Penerjemahan pada Kualitas Terjemahan Teks Medical-Surgical Nursing dalam Bahasa Indonesia, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Yang, Wenfeng, 2010, Brief Study on Domestication and Foreignization in Translation, Academy Publisher, Finland.


[1] Wenfen Yang, Brief Study on Domestication and Foreignization in Translation, Academy Publisher, Finland, 2010, h.77.

[2] Frans Sayogie, Teori dan Praktek Penerjemahan Bahasa Inggris ke dalam Bahasa Indonesia, Pustaka Anak Negeri, Tangerang, 2009, h. 74-75.

[3] Yang, loc.cit.

[4] Roswita Silalahi, Dampak Teknik, Metode, dan Ideologi Penerjemahan pada Kualitas Terjemahan Teks Medical-Surgical Nursing dalam Bahasa Indonesia, Universitas Sumatera Utara, Medan, 2009, h. 47.

[5] Rochayah Machali, Pedoman bagi Penerjemah, Penerbit Kaifa, Bandung, 2009, h. 102.

[6] ibid, h. 103.

 

 

 

 

Awan Tag

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.579 pengikut lainnya.